Pintu Belajar

News

Tangerang, Sebuah kota dengan dua wajah.


Tangerang, adalah sebuah kota yang memberikan cukup banyak kesempatan bagi para penduduknya, untuk maju dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Ini terlihat dari banyaknya jumlah pusat perbelanjaan, restoran, universitas terkemuka dengan komunitas mahasiswa/i di sekitarnya, perkantoran, dan kegiatan-kegiatan usaha lainnya yang saling berlomba-lomba memenuhi kota yang kian berkembang ini.





Perkembangan yang pesat mulai menjadikan Tangerang sebagai tempat pemukiman elit yang ramai dipenuhi dengan pertokoan serta perumahan mewah. Namun, masih ada salah satu sudut di kota ini yang seringkali tidak diperhatikan oleh banyak orang. Yang kian terlupakan, adalah jalanan penuh lumpur dan kerikil, rumah-rumah kumuh dengan tembok rapuh yang penuh tambalan, dan seperti inipun adalah keadaan mereka yang masih sedikit lebih beruntung.





Tim survei Pintu Belajar telah mengunjungi daerah pinggiran ini. Di bawah terik matahari dan debu, kami melihat beberapa anak dengan tubuh yang kurus, berjalan tanpa alas kaki sambil membawa barang-barang dalam kantong plastik, pergi berjualan di bawah lampu merah demi membantu meringankan beban hidup keluarganya. Setelah tampak kelelahan, anak-anak yang terlihat kekurangan gizi inipun pulang ke rumah mereka. Disebut rumah, namun sebenarnya lebih menyerupai gubuk dengan dinding dari kayu yang tipis atau anyaman bambu dan berlantaikan tanah.  Di mata mereka, universitas hanyalah sebuah gedung megah yang hanya mampu mereka lihat dari kejauhan, serta tempat untuk berlindung sejenak dari terik matahari sebelum diusir oleh petugas pengamanan.





Kita telah sering mendengar berbagai kisah tentang tempat-tempat seperti ini. Kita juga telah sering membaca kisah-kisah tentang mereka, persis seperti yang sedang anda sekalian lakukan saat ini. Tetapi, kami tetap saja tertegun ketika melihat kondisi mengenaskan tersebut dalam kunjungan kami yang singkat. Dalam kondisi inilah anak-anak itu menjalani hidup setiap harinya. Inilah kehidupan mereka – di suatu tempat yang sebenarnya tidak jauh dari tempat kita.





Sebuah cerita disampaikan kepada kami oleh seorang wanita yang terhenti dengan isak tangis di tengah-tengah ceritanya. Keluarga Ibu Susih yang berjumlah empat orang masih tidak mengalami kekurangan makanan, walau kelaparan itu kerapkali hampir mereka alami. Kedua anaknya telah berhenti sekolah sebagai satu-satunya pilihan, semata-mata karena tidak adanya biaya. Setiap harinya mereka habiskan dengan mengumpulkan botol plastik dan pecahan kaca, untuk dijual demi memperoleh sepeser uang. Suaminya sehari-hari mencari nafkah sebagai pekerja lepas untuk pekerjaan apapun yang mampu diperolehnya: sebagai pemecah batu, buruh konstruksi ataupun menarik becak milik temannya yang mau membagi penghasilan. Di samping itu, tidak satupun dari mereka yang bisa membaca.





Kondisi seperti ini merupakan suatu hal yang umum dalam komunitas tempat mereka tinggal. Sewaktu kami berada di sana, tidak terlihat adanya para pria. Semuanya sedang berjuang mencari nafkah, untuk bertahan hidup. Sebagian besar dari para wanita berada di rumah, menjaga anak-anak sekaligus bekerja sebagai pembantu rumah tangga harian untuk menambah penghasilan.





Cerita Ibu Susih hanyalah salah satu dari sekian banyaknya. Ketika Ibu Susih ditanya mengenai rencananya untuk masa depan kedua anaknya, dia pun menangis dan mengakui bahwa memikirkan hal itu hanya akan menghasilkan kesedihan di dalam hatinya. Sambil terisak, dia mengungkapkan bahwa ketidakberdayaan dengan kondisi keluarga akan semakin dirasakannya, dan karena itu dia bahkan tidak berani untuk memikirkan masa depan kedua anaknya.





“Saya merasa sedih kalau memikirkan tentang mereka yang akan tumbuh besar dan memiliki kehidupan seperti orang tuanya”. Dia berkata perlahan. Anak perempuannya yang berumur lima tahun berada di sisinya sambil memegangi baju lusuh yang dikenakan ibunya. “Saya dan suami saya sudah sungguh-sungguh berusaha. Terkadang suami saya berkata kalau dia ingin menyekolahkan yang sulung. Tetapi, biasanya dia sudah terlalu lelah sepulang kerja dan kami pun bahkan masih mengalami kesulitan untuk memberi makan kedua anak ini. Kami, dan yang sudah besar pun bisa pergi tanpa makanan, tetapi saya ingin yang terbaik untuk puteri saya”.





Kami kembali dari sana dengan perasaan penuh syukur bahwa kami tidak sampai harus mengalami kehidupan yang sangat keras seperti itu. Selain itu, kami meninggalkan Tangerang dengan tekad yang semakin bertambah kuat, untuk membantu orang-orang seperti Ibu Susih dan keluarganya dalam memperjuangkan masa depan yang lebih baik, karena sebagaimana kita semua, mereka pun memiliki hak untuk hidup yang lebih baik.





Mungkin suatu hari nanti, kedua anaknya dapat membaca cerita ini.