Pintu Belajar

News

Anak Yang Baik

Namanya Lukas. Usianya baru tujuh belas tahun. Sore itu ia sedang melangkah di jalan setapak dari tempat kerja ke rumahnya yang sangat sederhana. Sepanjang jalan ia mulai merasa khawatir akan menghadapi satu lagi pertengkaran dengan ayahnya, Theng

Sebagai seorang pembuat kandang ayam, Theng sudah cukup lama tidak mendapat pesanan untuk kandang ayamnya. Tanpa uang, pria berusia enam puluh tahun ini menjadi mudah sekali marah dan Lucas tahu betul, serta merta ayahnya dapat melampiaskan kemarahan itu padanya.

Saat itu, rumahnya sepi seperti biasa. Lukas mendapati ayahnya sedang tidur di kursi plastik di samping pintu. Seketika dalam hatinya ia merasa lega. Perang mulut antara ayah dan anak itu sudah jarang terjadi belakangan ini, sejak Lukas memutuskan untuk diam dan tidak lagi berbicara dengan Theng. Tetapi rasa bersalah senantiasa menyelimuti hatinya. Betapapun pemarahnya pria itu, Theng tetaplah ayah kandungnya.

Tak ada air untuk diminum sore itu, lalu sambil perlahan menimba air dari sumur untuk minum, Lukas meratapi keadaan hidupnya yang serba suram. Setiap hari Lucas bekerja memasukkan kue ke dalam kemasan plastik dengan upah seribu Rupiah per lusin kemasan. Pekerjaan ini tidak memberinya penghasilan tetap. Kadang ia hanya bisa mengerjakan 15 lusin kemasan per harinya. Namun, jika beruntung ia mampu mengerjakan 30 lusin kemasan dalam satu hari dan membawa pulang uang lebih. Pekerjaan yang melelahkan dan membosankan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa Lucas lakukan demi menghidupi diri dan ayahnya.

Orang tua Lukas bercerai ketika ia berusia 8 tahun. Ibunya menikah lagi dan pindah ke kota lain. Selama 9 tahun terakhir, Lucas tidak pernah mendengar kabar darinya. Theng yang sering mabuk dan selalu bersuasana hati buruk, nampaknya tak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Lucas tak punya pilihan selain mengurus dirinya sendiri. Akhirnya, karena keterbatasan dana, Lucas terpaksa berhenti bersekolah ketika ia berusia 14 tahun.

Pada tanggal 9 Juli 2011, Lukas memberanikan diri untuk bertemu dengan tim survei Pintu Belajar dengan membawa formulir permohonan beasiswa yang telah diisinya. Tanpa ada yang menemani, ia pun datang seorang diri.

Lukas mulai bercerita, “Waktu aku masih sekolah, aku juga sering tidak hadir. Dalam sebulan, aku terpaksa bolos hingga satu minggu, karena aku harus bekerja mencari uang..”

Cerita seperti ini lazim terdengar dari mulut anak-anak di desa Cirarab-Jawa Tengah, sebuah desa dimana banyak penghuninya yang tinggal di gubuk-gubuk yang memprihatinkan dalam keadaan ekonomi yang sulit.

Akan tetapi, ada sesuatu dalam diri Lukas yang membedakannya dari anak-anak lain. Kehidupannya yang keras tidaklah membuatnya menyerah begitu saja. Berbeda dari ayahnya yang terbenam dalam jurang keputusasaan, Lukas malah mendedikasikan dirinya untuk mengurus sebuah Cetiya kecil di dekat rumahnya.  Lukas menjadi pengurus di tempat kecil yang memberikan kedamaian di tengah suramnya lingkungan sekitarnya.

Dia yang menyapu lantainya. Dia juga yang merapikan tempat tidur kecil di sana. Dia yang mengumpulkan daun-daun yang berserakan dan menguburnya di halaman. Dia pula yang membersihkan buah-buahan dan sayur-sayuran.  Dia selalu menantikan kunjungan Bhante Kamsai dan menghargai waktu yang ia habiskan bersama anggota Sangha. Dia yang menjaga agar lilin Cetiya tetap menyala dan tak pernah padam. Dia Lukas, seorang anak lelaki yang menjaga kobar api semangat di tengah kegelapan yang menyelimuti dirinya sendiri.

“Kau tahu, memahami Dhamma telah sangat membantuku dalam menerima keadaan hidup ini,” akunya. Sekalipun Lukas memiliki pemahaman yang baik tentang menerima,  ia pun paham betul itu tidak sama dengan putus asa. 

“Aku tak mau menghabiskan sisa hidupku tanpa memiliki keterampilan apa pun.  Aku ingin berkarya lebih baik daripada cuma menjadi seorang buruh,” sambungnya. “Memang aku sudah berhenti sekolah selama tiga tahun, dan umurku tentu lebih tua daripada anak-anak lainnya di kelas nanti. Tapi aku ingin kembali sekolah! Aku ingin belajar lagi!” pekiknya dengan wajah penuh harap dan matanya yang mulai basah.  Ambisinya yang besar telah memberinya banyak energi untuk menciptakan gambaran yang jelas tentang masa depannya. Kemahirannya di bidang matematika membuatnya yakin akan karir pilihannya, “Aku akan jadi seorang akuntan,” katanya sambil memancarkan tekad.  Ketika seorang dewasa kehilangan keberanian dan berputus asa, Lukas justru mengambil keputusan untuk maju terus dan berjuang.

Ketika sebagian orang memiliki kehidupan nyaman yang diwariskan dari keluarganya, Lukas akan membangun kehidupan yang layak untuk dirinya sendiri. Dia akan terus berusaha, kembali bersekolah, berlatih berhitung dan matematika, demi keluar dari kehidupan yang diliputi oleh kemiskinan dan kesusahan ini.

Ketika ditanya tentang Theng, ayahnya, ia terdiam sejenak.

“Aku juga mau memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Papa kalau memungkinkan,” kata Lukas dengan tatapan mata nanar, “Aku tahu, Papa juga menjalani kehidupan yang sangat keras.”

Kini di bawah naungan Pintu Belajar, seorang Lukas yang menjaga api semangat di dalam hatinya agar tetap menyala di tengah dingin dan kerasnya kehidupan ini, dapat meneruskan ambisi dan mimpinya. Semoga suatu saat kehangatan apinya dapat dirasakan oleh kita semua yang kemudian mulai dapat memaknai, menghargai, serta memberikan dukungan atas perjuangan Lukas dan anak-anak lainnya.